TENTANG SUMBANGAN SEKOLAH, MENGAJAR dan ketulusan

31 Desember 2008

As.wr.wb

Tradisi tahunan menjelang dimulainya tahun ajaran baru biasanya diawali dengan Penerimaan Murid Baru. Dan disaat itulah kita sering mendengar keluh kesah dari sekian banyak orang tua murid dan atau wali murid tentang besarnya biaya yang harus mereka keluarkan untuk meneruskan anaknya bersekolah. Lebih-lebih di jenjang menengah atas. Entah itu di SMA, MA, maupun SMK, dan termasuk juga SMP/MTs.

Walaupun sesungguhnya  —terutama di Barito Kuala— biaya yang harus mereka keluarkan kalau kita bandingkan dengan di tempat lain di bumi Kalimantan ini, apalagi di Jawa sana, tempat kita tidaklah terlalu mahal. Tapi itulah memang tabi’at warga bangsa, mungkin akibat terlalu lama dijajah ‘tuan meneer’, sehingga seakan-akan nasib diri ini, masih serba kekurangan, masih serba susah, masih serba miskin, bahkan dimiskin-miskinkan, demi sebuah ‘kegratisan’. supaya segala sesuatunya harus di tanggung pemerintah, harus serba gratis, bahkan kalau bisa, makan pun maunya minta disuapin sama pemerintah.

Faktanya, tidak sedikit dari warga bangsa ini yang rela mati demi mendapatkan zakat fitrah, daging korban, rebutan BLT, sembako dan lain-lain karena ketergiuran dengan segala sesuatu yang serba gratisan. Sehingga nampaknya penduduk negeri ini belum pernah mendengar atau pura-pura tidak tahu dengan hadis nabi yang mengatakan, “tangan diatas lebih mulya dari pada tangan di bawah”.

Karena kalau kita lihat sekarang ini, dengan kacamata  ‘masa (tidak terlalu) lampau’ , warga bangsa ini sesungguhnya cukup sejahtera. Hanya segelintir orang  —itu pun adanya diperkotaan— yang boleh jadi  tidak  merasakan makan tiga kali sehari, hanya dua kali. Yang mengaku miskin, tidak jarang kalau kita tengok anaknya memiliki HP yang lumayan bagus. Yang tinggal di bawah jembatan tol pun banyak yang memiliki kulkas, sekalipun kecil. TV berwarna, walaupun hanya 12 – 14 inchi. Apalagi di Batola, rata-rata rumah mempunyai ‘bandat’ padi. Memiliki tanaman banyak. Ke ladang atau ke sawah tidak jarang banyak yang naik motor, sejalipun tidak terlalu mengkilap. Yang jelas, mereka miskin (mengaku-ngaku miskin) dengan barometer kekini-kinian. Dan kebanyakan, banyak yang hanya di penampilan saja yang dikesankan seakan-akan miskin, tidak parlente, tidak necis, padahal duit banyak disimpan di bawah ‘kasur’, emas dalam ‘peti’ besi tipis tempat penyimpanan ‘pakuyuman’. Apalagi di era serba disubsidi. Banyak yang menyembunyikan kemapanan.  Akan berbeda sekiranya program pemerintah misalkan ‘ Program Pemenjaraan Manusia Miskin”.  Saya berani memastikan, semua orang tidak ada yang mengaku miskin. Buktinya, para pengamen, gelandangan terorganisir, mereka semua takut dirazia para Satpol PP untuk dilakukan pembinaan.

Inilah tabi’at masyarakat bangsa melayunesia ini.

Makanya tidak heran apabila disetiap tahun ajaran dimulai, banyak celotehan, kritikan, bahkan  demo kecil-kecilan memprotes biaya sekolah yang  mahal  (atau semakin dimahalkan dalam ucapan mereka).

Rupanya  —sekali lagi— anak negeri ini lupa dengan hadis nabi  “menuntut ilmu itu wajib bagi muslim”, “tuntutlah ilmu sejak dari buayan sampai keliang lahat”,  ” tuntutlah ilmu walaupun kenegeri jauh (china)” dan banyak lagi hadis sejenis itu, yang kalau kita cermati jelas semua itu harus ada biaya.

Dari sinilah konteks  persoalan yang ingin blogger bahas dengan rangkaian paparan di atas.  Bahwa dalam pandangan islam, menuntut ilmu (siswa) dan mengajarkan ilmu (guru) dan orang yang membantu pembiayaan (orang tua murid) masuk dalam kategori jihad fii sabilillah. Dan itu bernilai ibadah yang besar. Tidak kalah nilainya dengan apabila warga masyarakat menyumbang biaya untuk membangun mushalla, langgar, atau mesjid.

Disinilah perlu penyadaran bahwa dibutuhkan ketulusan, keikhlasan, dari orang tua murid agar apabila dimintai sumbangan oleh sekolah perlu kebesaran hati, kelapangan jiwa, dan sekali lagi ketulusan supaya memperoleh keberkahan dari Allah dan dicintai penduduk langit. Sebab kalau tidak, apalagi kalau pungutan sumbangan yang dikeluarkan itu disikapi dengan mengumpat, mencaci maki, dan sikap sejenis lainnya, maka dikhawatirkan ilmu yang diserap oleh anak-anak kita dari bangku sekolah akan lenyap keberkahannya, hilang kemanfaatannya. Tidak bertambah bagus budi pekertinya. Karena sumbangan atau infaq yang disertai dengan umpatan, caci maki, hasilnya lebih cenderung kepada pembinasaan. Sebab seperti yang saya katakan tadi bahwa menyumbang untuk mesjid sama nilainya dengan menyumbang untuk lembaga pendidikan. Kedua-duanya sama-sama ibadah, sama-sama jihad di jalan Allah, dan sama-sama harus tulus, dan sama-sama tidak boleh diomongkan ke orang lain sumbangan kita itu supaya dicintai Allah dan penduduk langit lainnya.

Berubut zakat, BLT, sembako,  yang tidak ibadah saja, bahkan terkadang apabila berlebihan penampakan ‘ketamakan’ disaat ingin mendapatkannya, akan turun ke derajad hina dalam pandangan siapa pun lebih-lebih pandangan Allah ajja wajalla. Toh ternyata masyarakat kita rela berkorban, nyawa sekalipun. Apalagi kalau hanya sekedar antri berpanas-panas matahari. Masa, untuk sesuatu yang maha mulia, plus memiliki deposito pahala di kahirat, dan pahala dunianya adalah berupa anak yang kita sekolahkan akan menjadi manusia yang bermartabat, bertaqwa, berbudi pekerti yang luhur, kita semua tidak rela dan ikhlas berkorban sedikit harta dunia yang sebenarnya fana/musnah binasa dan tidak kita bawa menghadap sang khalik. Oleh karena itu, mari kita mencoba merubah tabi’at kita yang serba tamak ini dengan sikap yang tawadhu, qana’ah, dan serba lapang dada.

Dan kepada kawan-kawan guru, ustadz dan uztadzah,  luruskanlah niat kita untuk mengabdi bagi agama, nusa dan bangsa. Tidak hanya berhenti sebatas sebagai profesi pekerja pengajar saja, tapi jadilah pengajar  sekaligus  pendidik yang tulus ikhlas dengan menomorsatukan pengabdian di atas yang lainnya. Karena kalau tidak disertai ketulusan, kelapangan jiwa, ikhlas karena Allah, maka tidak pula termasuk di dalam kelompok jihad fii sabillah. Sehingga ilmu yang ditularkan kepada anak didik menjadilah ‘ia’ sia-sia dan tidak membawa kebaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik.

Mualilah kita mengawali segala aktivitas keseharian kita, lebih-lebih di awal tahun 2009 ini, segalanya harus lebih baik dari tahun kemarin, dengan niat pengabdian semata-mata karena Allah. Karena sesungguhnya apapun yang kita lakukan bisa bernilai ibadah dan tidak bernilai ibadah. Semuanya itu tergantung niat hati kita. Dan sudah semestinya ‘hati’ kita,  kita latih dan biasakan berbuat dan bertindak semata karena Allah. Agar sesuai dengan firmannya, “tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali semata-mata beribadah kepadaku”. Dan yang di teropong Allah adalah ‘hati’ kita, kemanakah  hati ini di arahkan? Kepada materikah?, jabatankah?, kepangkatankah? atau kepada-NYA.

Jawabnya, yang tarakhir yang benar dan lurus.

Wassalam.

Hello world!

31 Desember 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!